*)Disarikan dari Buku yang berjudul Looking Forward Through The Lifespan-Developmental Psychology, Candida Peterson, Prentice Hall, Sydney- oleh Sudiro
Cinta dan mendapatkan pekerjaan adalah kata kunci atau mungkin dapat dikatakan sebagai tugas perkembangan pada masa dewasa awal. Jatuh cinta adalah suatu proses perkembangan psikologis yang sangat unik. Susah diteorikan tetapi mudah dirasakan. Mungkin pantun berikut dapat menggambarkan bagaimana cinta mengalir dari sekedar lirikan menjadi cinta dengan intensitas yang makin meninggi.
Dari mana datangnya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati
Sedangkan mencari pekerjaan pada masa dewasa awal merupakan tugas perkembangan selanjutnya yang dapat dirasa sangat erat hubungannya dengan jatuh cinta. Resiko dari mencari pekerjaan adalah mendapat pekerjaan atau menjadi pengangguran. Keduanya memiliki konsekwensi masing-masing. Pekerja awal akan merasa kesulitan untuk penyesuaian dirinya, harus dapat menerima kenyataan bahwa teori-teori dan idealism yang ia dapatkan di bangku pendidikan tidak begitu berarti dalam dunia kerja atau kadang malah bertentangan.
Selepas jatuh cinta dan mendapatkan pekerjaan, ada suatu siklus lagi yang harus dijalani individu dewasa awal yaitu berupa pergeseran peran dari seorang lajang menjadi suami, istri dan menjadi orangtua bagi anak-anaknya. Perubahan status ini banyak mengubah pola pikir dan aktifitas baik fisik maupun psikis yang pada masa awal mengalaminya akan terasa sangat sulit.
Kepada para pembaca muda kami ucapkan selamat untuk mempersiapkan datangnya masa dewasa awal. Kepada para pembaca dewasa kami ucapkan selamat pula untuk merefleksi diri. Terima Kasih.
Alih Bahasa & Penulis Ekstraksi – Sudiro
Masa dewasa awal adalah waktunya orang jatuh cinta, memilih karir, menikah dan memiliki keturunan. Masa dewasa dimulai saat seorang individu mengakhiri masa remaja hingga memasuki masa tua. Seperti halnya masa anak-anak, pada masa ini juga terjadi perubahan fungsi-fungsi psikologis yang signifikan.
Freud mengatakan bahwa tugas perkembangan utama pada masa fase ini adalah cinta dan pekerjaan. Cinta diartikan sebagai perwujudan dari perannya sebagai orangtua, dan persahabatan yang menjadi pernikahan dan berbagi ide dengan rekan kerja dan sahabat hingga pada taraf keintiman secara seksual. Sedangkan kerja diartikan sebagai perdekatan masing-masing individu untuk mendapatkan pekerjaan misalnya sebagai seorang terapis, guru atau penulis. Pekerjaan atau karir meliputi pengembangannya melaui kreatifitas dan cinta serta kepedualiannya terhadap klien, pasien, siswa dan kemanusiaan secara integral.
Masa dewasa adalah masa dimana seseorang mulai terlibat perasaan cinta dan kepedulian terhadap orang-orang yang hidup bersamanya serta pengembangan bakat-bakatnya pada dunia kerja hingga ia dapat mamahami tujuan hidupnya. Masa ini diawali antara usia 18 tahun dengan ditandai berhentinya pertumbuhan fisik, selesainya pendidikan lanjutan dan lepas dari ketergantungan kepada orangtua. Pada masa ini individu mengalami jatuh cinta, menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, membangun rumahtangga, menikah dan memulai hidup berkeluarga.
Pada usia 25 hingga 35 tahun individu memperoleh kematangan social dan siap menjadi orang dewasa yang sebenarnya. Namun kendala tetap saja ada, yaitu pengangguran yang berakibat terdorongnya peningkatan akses pendidikan tinggi untuk menghindari pengangguran. Mereka dapat meningkatkan perkembangan kognitif, social dan kepribadian melalui perkuliahan. Mereka berkesempatan untuk mengeksplorasi nilai-nilai dan keyakinan filosofis, berteman dengan orang yang berasal dari latar belakang dan budaya yang berbeda, dan prospek karir di masa mendatang. Namun sayangnya mereka belum bias terbebas dari ketergantungan kepada orangtua baik secara social maupun ekonomi yang biasanya juga berakibat pada penundaan pernikahan dan mempunyai keturunan.
CINTA DAN PEKERJAAN
Perubahan psikologis mendasar terjadi seiring dengan peningkatan pemikiran idealis mereka karena keragaman karir yang meraka harapkan justru menimbulkan kekhawatiran menjadi pengangguran. Setelah lulus pendidikan menengah dan belum memperoleh pekerjaan, banyak yang mencari penyaluran melalui olahraga, belajar keterampilan tambahan, dan kegiatan fisik serta mental lainnya sambil menunggu peluang yang tepat untuk mencapai cita-cita hidupnya. Pekerjaan benar-benar berpengaruh sangat kuat terhadap proses pendewasaan kepribadian individu pada masa dewasa awal ini. Dengan mendapatkan pekerjaan dan mulai merancang perekonomian, individu dewasa awal ini segera menginjak pada transisi penting memasuki dunia pernikahan dan diikuti dengan rencana memiliki keturunan. Dengan menjadi orangtua, akan terjadi perkembangan psikologis dari mengandung, melahirkan, serta stabilitas diri sampai dengan anaknya berusia 1 sampai 2 tahun.
JATUH CINTA
Jatuh cinta merupakan proses perkembangan, biasanya diawali dengan lirikan yang disertai dengan ketertarikan psikis dan rasa ingin mencintai. Selanjutnya, menjadi pasangan yang semakin mesra dan tumbuh rasa saling memiliki diikuti dengan keintiman yang menggairahkan. Terjadi suatu peningkatan intensitas yang unik atas perasaan cinta yang dimulai dari ketertarikan biasa sampai pada puncak keterikatan cinta yang berlangsung selama puluhan tahun. Cinta dan proses perkembangan psikologis bukan hanya berhubungan karena adanya perubahan romantisme hubungan yang temporer belaka namun berpengaruh kuat terhadap kematangan kepribadian individu.
Apakah cinta romantic itu? Henry Fink (1902) mengatakan bahwa cinta seperti lapisan yang penuh paradoks bentuknya bermacam-macam dan terselubung serta berubah-ubah ujud berupa apapun yang menyenangkan. Cinta lebih mudah dijalani daripada dijelaskan. Kemesraan akan segera meningkat ketika timbul kegairahan pada pasangan yang dilanda cinta. Namun bukan berarti perasaan pertama harus langsung romantic diawal terpanah asmara. Kekhawatiran, marah, cemburu, dan berbagai bentuk frustrasi lain yang mengarah pada gejala psikologis dapat menjadi titik awal yang mengarah pada perasaan cinta romantic. Cinta juga merupakan ideologi yang dibangun bersama pasangan melalui pengalaman hidup mereka berdua. Wanita lebih pragmatis menghadapi cinta sedangkan pria lebih idealis dan kadang sinis terhadap cinta. Wanita juga menanggapi cinta lebih intens dan lama dibandingkan pria. Orang dewasa yang terlalu romantic biasanya malah miskin pengalaman pergaulan dengan lawan jenis. Mereka yang telah berkeluarga atau hidup bersama dengan pasangannya dalam jangka waktu lama biasanya juga tidak seromantis pasangan muda yang berpacaran. Terlebih pasangan kumpul kebo lebih tidak romantic dibandingkan mereka yang menikah secara sah.
Romantisme berbanding terbalik dengan signifikansi hubungan dan pengalaman hubungan seksual. Semakin sering mereka berhubungan seksual maka semakin berkurang pula tingkat romantismenya.
Keindahan Cinta. Ada 3 unsur keindahan cinta yang mungkin atau bahkan sama sekali tidak berhubungan yaitu:
1. Kemesraan
2. Komitmen
3. Keintiman
Patah hati. Cinta romantic juga merupakan sumber dari sakit hati. Salah satunya adalah akibat dari kecemburuan yang berupa penderitaan karena rasa tidak aman atau rendah diri. Disamping rasa sakit bias terjadi juga karena putus cinta. Menurut penelitian Elain Hatfield dan G William Walster (1978), bahwa rata-rata romantisme pasangan hanya bertahan selama enam bulan, hanya ada sedikit yang bias mempertahankan romantisme hingga satu setengah tahun. Hal tersebut dikarenakan tanpa sadar dengan romantisme yang mereka lakukan terjadi perubahan kondisi fisiologis yang berupa, merinding, denyut jantung meningkat, energy yang berlebihan serta kurang atau bahkan hilang nafsu makan. Tubuh manusia tidak mampu bertahan terlalu lama dengan kondisi fisiologis tersebut diatas dan harus menyesuaikan diri kembali dengan ekuilibrium kebiasaan fisiologis yang semestinya.
CINTA MENURUT TEORI PERKEMBANGAN
Romantisme pasangan mengalami perkembangan yang diawali dari suatu gejolak cinta dan nafsu seksual yang menggebu hingga lama kelamaan berubah kearah yang lebih mantap, hubungan yang bersahabat.
Romantisme cinta yang menggairahkan dan kadang menyakitkan hanya berlangsung dalam jangka waktu yang pendek, tetapi bukan berarti dengan berlalunya kemesraan berlalu pula romantismenya. Bagi yang sudah berada pada tahapan pasangan tetap akan berorientasi pada keterbuakaan satu sama lain. Keterbukaan mengacu pada keseimbangan perasaan masing-masing pasangan dalam hal kontribusi pada hubungan mereka. Kontribusi dapat beragam mulai dari kasih sayang hingga keuangan, pakaian, kecantikan atau kepribadian yang hangat dan responsive.
Menurut teori, keterbukaan antar pasangan harus seimbang. Ketidakseimbangan keterbukaan menyebabkan salah satu pasangan mengalami kemarahan, dan perasaan tereksploitasi yang diringi juga oleh pasangan yang tidak terbuka dengan perasaan bersalah dan khawatir.
Kematangan cinta berangsur tercapai seiring dengan berjalannya waktu dan makin akrabnya antar pasangan dengan makin adanya keterbukaan dan saling pengertian diantara keduanya.
Kematangan cinta adalah penyatuan dua intergritas dan individual. Cinta adalah power yang proaktif, suatu energy yang mampu menjebol tembok pemisah antara dua individu dan menyatukan keduanya. Cinta mampu mengikis perasaan egois, terisolir dan terpisah. Dalam cinta, terjadi penyatuan dua individu yang tetap berujud dua manusia.
Keintiman yang hakiki menurut Erikson (1968, p. 137) merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar ekslusifitas dalam hubungan monogamy, kebersamaan dalam satu rumah tangga, menyatu dalam rumah dan tempat tidur atau bahkan yang paling pribadi yaitu pemikiran dan perasaan tapi lebih dari itu keintiman juga ditandai dengan pengorganisasian dua individu yang berfusi identitas dan membentuk pola psikologis baru yang unik.
Kebutuhan akan cinta pada masa dewasa awal ternyata juga dibarengi dengan kebutuhan untuk bekerja. Dalam perkembangan psikologis, seorang individu pada masa ini memperoleh kepuasan apabila dapat mencapai keduanya baik cinta maupun pekerjaan. Keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama dapat diprediksi kemajuan dan perubahannya.
PERKEMBANGAN KARIER
Memasuki dunia kerja adalah tonggak yang lain dalam perkembangan manusia dewasa awal. Bagi mereka yang kurang beruntung karena menjadi pengangguran akan mengalami berbagai kemungkinan beban psikologis seperti kejenuhan, apatis, kurang percaya diri, menurunnya intensitas cita-cita atau bahkan sirna sama sekali, meningkatnya intensitas gejala penyakit baik fisik maupun psikis. Dipihak lain, dengan mendapatkan pekerjaan merupakan kesempatan untuk mengembangkan serangkaian nilai dan identitas profesi. Tetapi pekerja pemula juga biasanya mengalami tantangan dan hambatan. Ia akan bereksplorasi dalam upaya menyesuaikan antara cita-cita dirinya dengan kenyataan dan kebiasaan dunia kerjaannya. Banyak hal ia temui yang seakan menghambat cita-cita dan pengembangan keterampilan/kemampuannya, kesulitan mendapatkan pengakuan social dan perasaan terbebani oleh pekerjaan biasa-biasa saja serta menghadapi atasan yang ketat atau aturan perusahaan/organisasi yang ia anggap absurd. Namun pada akhirnya ia akan dapat menerima keadaan dan kenyataan bahwa perkembangan kemampuan memerlukan proses seleksi yang ketat. Bakat dan minat tertentu mendapat dukungan dan mendukung pekerjaaanya sedangkan banyak lagi kemampuannya akan berkembang tanpa tujuan atau bahkan tidak berguna sama sekali.
Pekerjaan adalah keterlibatan individu pada suatu komunitas secara terus-menerus berubah dan untuk meniti masa depan. Dunia kerja selalu berubah seiring dengan perubahan kebijakan dan orang-orangnya. Individu yang bekerja didalamnya juga ikut berubah secara terpola mengikuti polarisasi waktu, ruang dan tahapannya seiring dengan perubahan individu kearah pendewasaan yang menghasilkan kemampuan kerja untuk masa mendatang.
Memperoleh pekerjaan bagi orang muda merupakan titik awal dari bangkitnya harga diri, mood dan moral, serta mereka berkembang menjadi seorang pekerja dewasa. Dari masa sekolah atau menganggur, memasuki dunia kerja diperlukan beberapa aspek psikologis yang patut diperhatikan antara lain: nilai kerja dimana seorang individu meninai dirinya apakah ia cukup produktif dengan pekerjaan yang digelutinya atau tidak. Pengembangan identitas, perubahan identitas diri dari seorang pelajar/mahasiswa atau pengangguran menjadi seorang pekerja. Eksplorasi karir, biasanya identitas diri akan mudah dicapai apabila seorang individu menemukan karier yang sesuai dengan cita-cita, minat dan keterampilan.
MEMULAI KARIER
Meskipun dengan memulai suatu pekerjaan baru yang pernah ia dapatkan, seorang individu harus merubah gaya hidup dan re-orientasi, namun ia juga mendapatkan suatu pengalaman baru seperti keterampilan baru dan kode etik profesi. Ia mulai pula menjalankan peran baru ketika berinteraksi dengan rekan kerja dan menyesuaikan dirinya dengan struktur kerja yang ada. Secara informal, ia juga mengalami perubahan hubungan dengan orangtuanya dan pasangan hidupnya seiring dengan mulai diperolehnya kebebasan ekonomi tapi juga keterbatasan waktu dan energinya.
Sedangkan untuk menyesuaikan dirinya dari budaya dan kebiasaan di sekolahnya pada kehidupan baru dunia pekerjaan dapat berlangsung selama duapuluh bulan pasca kelulusannya yang dalam praktiknya biasa terjadi hambatan yang berupa: stagnasi pribadi, yaitu dengan keterbatasan kesempatan untuk memperluas, meningkatkan dan memperdalam keterampilannya, terhambatnya kemajuan karena kurangnya kesempatan untuk berkreasi dalam pekerjaan.
PERKAWINAN DAN PERKEMBANGAN
Selama masa-masa awal perkawinan, pasangan muda begitu saja meniru gaya orang lain, tradisi maupun kebiasaan umum dalam urusan rumah tangga. Keberhasilan rumah tangga sesungguhnya tergantung kepada keinginan-keinginan baik secara keyakinan, maupun keterampilan dan kemampuan lain yang dimiliki masing-masing pasangan serta bagaimana menempatkan pada proporsinya. Stress, konflik, ketidakseimbangan peran antara suami dan istri dan gangguan kesehatan mental mungkin terjadi apabila peran keduanya tidak dibagi secara berimbang dan sesuai.
Perkawinan itu sendiri merupakan proses perkembangan yang mengubah individu secara bertahap menjadi seperti yang dibutuhkan dalam rumah tangga. Ia akan mengalami beban dan tekanan mental social apabila tidak dapat menentukan kapan harus menikah, punya anak dan memiliki rumah tempat tinggal. Secara urut proses tersebut meliputi: mencari jodoh, dengan siapa seorang individu kelak akan menikah dan membentuk rumah tangga. Pembagian peran dalam rumah tangga, pekerjaan apa untuk masing-masing pasangan. Ada yang menggunakan pendekatan tradisional dimana peran suami bekerja mencari nafkah dan isteri bergelut dengan semua pekerjaan rumah tangga. Sedangkan berikutnya menerapkan hubungan yang egaliter yang membagi adil peran suami dan istri. Sedangkan pendekatan ketiga adalah hubungan partnership dimana antara suami dan istri saling melengkapi dengan apa yang bias dan senang mereka lakukan.
MENJADI ORANGTUA
Ketidakcocokan rencana tentang kapan, berapa dan jenis kelamin apa mereka mempunyai anak merupakan masalah berikutnya dalam rumah tangga muda. Beberapa beban menjadi orangtua diantaranya meliputi ketidaknyamanan, beban financial, berkurangnya waktu, tenaga dan dana untuk hiburan, rekreasi dan hobi dan beban tanggungjawab memiliki anak serta konsentrasi kasih sayang kepada mereka. Sedangkan motif memiliki anak diantaranya adalah kesenangan, kebutuhan, curahan cinta, dan kesempatan untuk memiliki kebanggaan serta dapat belajar dan mengajar.
Beberapa bulan pertama pasca pasangan muda melahirkan anak merupakan masa sulit sebagai orangtua. Mereka harus menata ulang managemen rumah tangga, rutinitas, perasaan, pembagian peran dan struktur rumah tangga. Transisi dari masa muda menjadi orangtua juga merupakan kendala berat karena mereka yang menjalani masa muda secara kontemporer menjadi miskin pengetahuan dan kenyataan tentang bagaimana mengasuh anak sehari-hari.
PERKEMBANGAN SEBAGAI ORANGTUA
Kemantapan menjadi orangtua akan diperoleh secara bertahap dan akan mulai terlihat sejak usia anak mencapai satu tahun. Namun demikian, berbagai perubahan signifikan tingkah laku orangtua harus terjadi terus menerus sepanjang perkembangan anak. Karena makin lama ketergantungan anak makin berkurang digantikan dengan kebebasannya yang makin bertambah maka orangtua harus kembali menyesuaikan keseimbangan perannya sebagai pendamping anak dalam memilih peran, cita-cita dan pasangannya.
terima kasi atas artikel ini mas.:)
boleh kah saya minta daftar pustaka dari buku Looking Forward Through The Lifespan-Developmental Psychology ini?
terima kasi sebelumnya
By: julinda on September 5, 2008
at 12:33 pm
artikelx membantu sekali buat referensi skripsi saya ; )
By: neyma on February 18, 2009
at 7:55 am
syukurlah…. semoga cepat lulus untuk ikut membangun negeri ini menjadi lebih baik…. amin
By: sudiro71 on February 21, 2009
at 1:19 am